A.
Pengertian Sedentary Behavior/Lifestyle
Pada Remaja
Menurut
pendapat Aubert et al. (2017) definisi dari sedentary behavior merupakan
“seluruh kegiatan dibawah kesadaran dengan pengeluaran energi ≤1,5 metabolic
equivalents (MET) dalam posisi duduk ataupun berbaring”. Meliputi duduk pada
waktu santai, pulang-pergi kerja, serta pada saat di lingkungan kerja maupun
rumah. Contoh dari sedentary adalah menonton TV, bermain video game, menggunakan
komputer, membaca, berbicara di telepon, dan duduk pada saat bepergian dengan
mobil, bis, kereta, pesawat, kapal, dan sebagainya. Oleh karena itu sedentary
behavior mencakup semua yang melibatkan duduk dan pengeluaran energy yang
rendah (Leitzmann et al., 2018).
Menurut
Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 menyatakan sedentary lifestyle adalah
perilaku duduk atau berbaring dalam sehari-hari baik ditempat kerja (kerja di
depan computer, membaca, dan lain-lain), dirumah (menonton televise, bermain game
dan lain-lain), diperjalanan/trasnportasi (bus, kereta, motor), tetapi tidak
termasuk dalam waktu tidur.
Disimpulkan
bahwa sedentary behavior/lifestyle adalah sekelompok perilaku yang terjadi saat
duduk atau ebrbaring uang emmbutuhkan pengeluaran energy yang sangat rendah,
seperti duduk atau berbaring sambil emnonton televise, bermain game elektronik,
membaca dan lain sebagainnya.
B. Pemicu
Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja
1. Perilaku yang menetap berpengaruh pada peningkatan risiko Obesitas
Menurut Bell et al. (2014) meningkatnya perilaku sedentari atau sedentary behavior dapat meningkatkan risiko obesitas serta gangguan metabolik. Terdapat bukti bahwa sedentary behavior dapat menyebabkan terjadinya obesitas dan berpengaruh terhadap faktor risiko metabolik seperti tekanan darah, plasma lipid, glukosa darah serta insulin namun masih terbatas bukti kajian yang mendukung sedentary behavior sebagai faktor risiko terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.
2. Norma
keluarga yang kurang ketat
Norma keluarga yang
kurang ketat dan cenderung permisif atau tidak memantau remaja dalam
menggunakan sedentary lifestyle seperti membiarkan remaja searching apa
saja di dunia maya berpengaruh terhadap perilaku remaja yang cenderung kearah
perilaku pornografi yang berisiko. Hal ini sama dengan penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa lingkungan Keluarga ada hubungannya dengan peggunaan waktu sedentary
lifestyle seperti penggunaan handphone dengan pengawasan terhadap kesehatan
reproduksi remaja.
3. Adanya
perubahan gaya hidup dengan menggunakan alat transportasi
Diperkuat dengan
pendapat (Mndriyarini et al., 2017) menyatakan bahwa penurunan aktivitas fisik
terjadi karena adanya perubahan gaya hidup seperti ke sekolah dengan
menggunakan kendaraan atau diantar dengan mobil atau kendaraan umum. Selain
itu, adanya perubahan desain perkotaan juga berdampak pada penurunan tingkat
aktivitas fisik karena adanya peralihan dari jalan kaki dan bersepeda menjadi menggunakan
kendaraan bermotor. Sehingga pada saat ini kurangnya aktivitas fisik juga
dipengaruh oleh adanya alat transportasi.
C. Dampak
Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja
1. Obesitas
Kekurangan aktivitas
gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan
olahraga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olahraga
secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang
tersebut. Sehingga remaja dengan sedentary lifestyle ≥ 5 jam/hari berisiko 2,9
kali menjadi obesitas dikarenakan terjadinya penurunan metabolisme basal di
dalam tubuhnya dan akibatnya terjadi penumpukan lemak dan obesitas. Obesitas
juga menjadi faktor resiko terkena penyakit metabolik, dapat menurunkan tingkat
kecerdasan karena aktivitas dan kreativitas anak menurun, depresi dan cenderung
malas.
2. Peningkatan
nafsu makan
Berdasarkan penelitian
terbukti bahwa aktivitas sedentari yang mengarah kepada aktivitas kognitif
misalnya seperti membaca buku dan bermain laptop akan meningkatkan
ketidakstabilan glikemik. Peningkatan kestidakstabilan glikemik ini dapat
menyebabkan keinginan untuk meningkatkan makan. Penelitian lain menyebutkan
bahwa perilaku sedentarian ini mengakibatkan seseorang mengalami keterbatasan
metabolisme. Keterbatasan metabolisme ini menyebabkan rusaknya aktivitas pusat
kenyang dan meningkatnya aktivitas pusat lapar. Hal tersebut mengakibatkan
peningkatan nafsu makan.
3. Hipertensi
Remaja yang melakukan
perilaku sedentaris selama > 2 jam sehari selama dua tahun follow up
menunjukan tingginya insiden tekanan darah tinggi. Perilaku sedentaris mengubah
respon myokine di otot rangka dan perubahan ini meningkatkan disfungsi endotel
dalam sistem kardiovaskular dengan peningkatan adipokines proinflamasi.
Akibatnya, kenaikan ini bisa menjadi awal dari proses patologi aterosklerosis
dan semakin berkembang menjadi hipertensi. Remaja yang melakukan perilaku
sedentaris selama > 2 jam sehari selama dua tahun follow up menunjukan
tingginya insiden tekanan darah tinggi. Perilaku sedentaris mengubah respon
myokine di otot rangka dan perubahan ini meningkatkan disfungsi endotel dalam
sistem kardiovaskular dengan peningkatan adipokines proinflamasi. Akibatnya,
kenaikan ini bisa menjadi awal dari proses patologi aterosklerosis dan semakin
berkembang menjadi hipertensi.
4. Gangguan
mata
Perilaku sendentary
remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi, menggunakan
komputer dan bentuk hiburan berbasis layar lainnya dapat menyebabkan gangguan
pada mata. Penggunaan media yang berlebihan dan secara terus menerus akan
mengganggu fungsi visual, juga dapat menyebabkan kelelahan okular dan fisik.
Gangguan kesehatan akibat kelelahan mata karena terus menerus menatap layar
monitor. Gejalanya dapat berupa ketegangan / kelelahan mata, mata kering, mata
merah, iritasi mata, rasa terbakar pada mata, penglihatan kabur, penglihatan
ganda, lambat dalam mengubah fokus, perubahan persepsi warna, sekresi air mata
yang berlebihan, sensitif cahaya / silau, nyeri kepala, dan rasa sakit pada
leher, bahu dan punggung.
D. Cara
Mengatasi Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja
1. Membatasi
Screen Time
Rekomendasi waktu yang
dihabiskan untuk melihat monitor/screen time yang dibatasi maksimal 2 jam/hari.
Karena melihat layar seperti menonton televisi dapat menyebabkan obesitas pada
remaja. Hal itu karena selain pengeluaran energy yang terbatas dan asupan
energy yang lebih tinggi dari cemilan serta konsumsi buah dan sayuran yang
lebih rendah.
2. Dukungan
Teman Sebaya
Teman sebaya cenderung
lebih mudah mempengaruhi dalam melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.
Teman sebaya yang dimaksud adalah teman yang sering menghabiskan waktu bersama
biasanya yang memiliki gender yang sama, dan mendukung satu sama lain. Remaja
yang tidak emmiliki dukungan teman sebaya lebih berpeluang untuk melakukan
perilaku sedentary.
3. Menemukan hobi atau aktivitas positif yang
disukai
Menemukan aktivitas
positif pada remaja dapat dilakukan dengan cara bergabung dengan komunitas
untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan kegiatan yang disenangi. Dalam hal
ini remaja akan menghabiskan waktu sneggangnya dan menjadikan kegiatan tersebut
sebagai media pencapaian kebahagiaan hidupnya.
4. Penyediaan
Fasilitas
Tersedianya fasilitas
membuat aktivitas fisik semakin emningkat, karena fasilitas merupakan salah
satu yang mendukung seseorang untuk melakukan aktivitas fisik dan mencegah
sedentary. Adanya fasilitas yang cukup memadai, akan memberi kemudahan bagi
seseorang untuk melakukan aktivitas fisik.
5. Pengawasan
Orang Tua
Orang tua sebaiknya lebih
mengarahkan dan melakukan manajemen terhadap kegiatan remaja agar waktu
luangnya dihabiskan untuk hal-hal yang bermanfaat, positif, dan sehat serta
membatasi pengggunaan/aktivitas yang berbasis layar.
Daftar
pustaka:
Faiq
A R, Zulhamidah Y, & Widayanti E., Gambaran Sedentary Behaviour dan Indeks
Massa Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI di Masa Pendidikan
Tahun Pertama dan Kedua. Majalah
Sainstekes. 5(2), p. 66-73.
Desmawati.,
Gambaran Gaya Hidup Kurang Gerak (Sedentary Lifestyle) dan Berat Badan Remaja
Zaman Milenial di Tangerang, Banten. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Masyarakat. 11(4), p. 296-301.
Sinulingga
P A, Andayani L S, & Lubis Z., 2021. Hubungan Pengethauan Dengan Perilaku
Sedenatry yang BErisiko Obesitas Pada Remaja Di Kota Medan. Jurnal Health Sains. 2(5).
Ludyanti
L N., 2019. Perilaku Kurang Gerak (Sedentary Behaviour) Dengan Perkembangan
Psikososial Anak Pra Sekolah. Jurnal
Ilmiah Ilmu Kesehatan. 7(2), p. 23-31.
Sholihah
M, Soedirham O, & Triharini M., 2019. Niat Keluarga Terhadap Peningkatan
Peran Mencegah Sedentary Lifestyle
Remaja. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara
Forikes. 10(4), p. 257-260.
Martha,
E. (2020). Perilaku Sedentary Siswa SMP DI Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor
Jawa Barat Tahun 2018. Jurnal Ekologi
Kesehatan, 19(1), 76-83.
Repi
A A., 2018. Aku, Remaja yang Positif.
Jakarta : PT. Gramedia
Wati,
W. (2021). Hubungan Penggunaan Media Elektronik Dengan Keluhan Di Mata Remaja
Dengan Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19. JKM: Jurnal Keperawatan Merdeka, 1(1), 108-114.
Nugroho,
D. U., Saraswati, L. D., & Udiyono, A. (2016). Gambaran Faktor Risiko
Peningkatan Tekanan Darah Pada Remaja Usia 12-14 Tahun (Studi Pada Siswa Smp
Islam Al Azhar 14 Semarang). Jurnal
Kesehatan Masyarakat (Undip), 4(1), 120-126.
Damayanti,
Z., Margawati, A., & Noer, E. R. Gaya Hidup Sedentari Remaja Urban
Berkaitan dengan Emotional Eating. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 4(1), 28-49.
Mandriyarini,
R., Sulchan, M., & Nissa, C. (2017). Sedentary lifestyle sebagai risiko
kejadian obesitas pada remaja SMA stunted di Kota Semarang. Journal of Nutrition College, 6(2),
149-155.
