Sabtu, 09 April 2022

Sedentary Behavior Remaja

A.    Pengertian Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja

Menurut pendapat Aubert et al. (2017) definisi dari sedentary behavior merupakan “seluruh kegiatan dibawah kesadaran dengan pengeluaran energi ≤1,5 metabolic equivalents (MET) dalam posisi duduk ataupun berbaring”. Meliputi duduk pada waktu santai, pulang-pergi kerja, serta pada saat di lingkungan kerja maupun rumah. Contoh dari sedentary adalah menonton TV, bermain video game, menggunakan komputer, membaca, berbicara di telepon, dan duduk pada saat bepergian dengan mobil, bis, kereta, pesawat, kapal, dan sebagainya. Oleh karena itu sedentary behavior mencakup semua yang melibatkan duduk dan pengeluaran energy yang rendah (Leitzmann et al., 2018).

Menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 menyatakan sedentary lifestyle adalah perilaku duduk atau berbaring dalam sehari-hari baik ditempat kerja (kerja di depan computer, membaca, dan lain-lain), dirumah (menonton televise, bermain game dan lain-lain), diperjalanan/trasnportasi (bus, kereta, motor), tetapi tidak termasuk dalam waktu tidur.

Disimpulkan bahwa sedentary behavior/lifestyle adalah sekelompok perilaku yang terjadi saat duduk atau ebrbaring uang emmbutuhkan pengeluaran energy yang sangat rendah, seperti duduk atau berbaring sambil emnonton televise, bermain game elektronik, membaca dan lain sebagainnya. 

 

B.     Pemicu Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja

1.   Perilaku yang menetap berpengaruh pada peningkatan risiko Obesitas

   Menurut Bell et al. (2014) meningkatnya perilaku sedentari atau sedentary behavior dapat meningkatkan risiko obesitas serta gangguan metabolik. Terdapat bukti bahwa sedentary behavior dapat menyebabkan terjadinya obesitas dan berpengaruh terhadap faktor risiko metabolik seperti tekanan darah, plasma lipid, glukosa darah serta insulin namun masih terbatas bukti kajian yang mendukung sedentary behavior sebagai faktor risiko terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.

2.      Norma keluarga yang kurang ketat

Norma keluarga yang kurang ketat dan cenderung permisif atau tidak memantau remaja dalam menggunakan sedentary lifestyle seperti membiarkan remaja searching apa saja di dunia maya berpengaruh terhadap perilaku remaja yang cenderung kearah perilaku pornografi yang berisiko. Hal ini sama dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lingkungan Keluarga ada hubungannya dengan peggunaan waktu sedentary lifestyle seperti penggunaan handphone dengan pengawasan terhadap kesehatan reproduksi remaja.

3.    Adanya perubahan gaya hidup dengan menggunakan alat transportasi

Diperkuat dengan pendapat (Mndriyarini et al., 2017) menyatakan bahwa penurunan aktivitas fisik terjadi karena adanya perubahan gaya hidup seperti ke sekolah dengan menggunakan kendaraan atau diantar dengan mobil atau kendaraan umum. Selain itu, adanya perubahan desain perkotaan juga berdampak pada penurunan tingkat aktivitas fisik karena adanya peralihan dari jalan kaki dan bersepeda menjadi menggunakan kendaraan bermotor. Sehingga pada saat ini kurangnya aktivitas fisik juga dipengaruh oleh adanya alat transportasi.

 

C.     Dampak Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja

1.      Obesitas

Kekurangan aktivitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olahraga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olahraga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Sehingga remaja dengan sedentary lifestyle ≥ 5 jam/hari berisiko 2,9 kali menjadi obesitas dikarenakan terjadinya penurunan metabolisme basal di dalam tubuhnya dan akibatnya terjadi penumpukan lemak dan obesitas. Obesitas juga menjadi faktor resiko terkena penyakit metabolik, dapat menurunkan tingkat kecerdasan karena aktivitas dan kreativitas anak menurun, depresi dan cenderung malas.

2.      Peningkatan nafsu makan

Berdasarkan penelitian terbukti bahwa aktivitas sedentari yang mengarah kepada aktivitas kognitif misalnya seperti membaca buku dan bermain laptop akan meningkatkan ketidakstabilan glikemik. Peningkatan kestidakstabilan glikemik ini dapat menyebabkan keinginan untuk meningkatkan makan. Penelitian lain menyebutkan bahwa perilaku sedentarian ini mengakibatkan seseorang mengalami keterbatasan metabolisme. Keterbatasan metabolisme ini menyebabkan rusaknya aktivitas pusat kenyang dan meningkatnya aktivitas pusat lapar. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan nafsu makan.

3.      Hipertensi

Remaja yang melakukan perilaku sedentaris selama > 2 jam sehari selama dua tahun follow up menunjukan tingginya insiden tekanan darah tinggi. Perilaku sedentaris mengubah respon myokine di otot rangka dan perubahan ini meningkatkan disfungsi endotel dalam sistem kardiovaskular dengan peningkatan adipokines proinflamasi. Akibatnya, kenaikan ini bisa menjadi awal dari proses patologi aterosklerosis dan semakin berkembang menjadi hipertensi. Remaja yang melakukan perilaku sedentaris selama > 2 jam sehari selama dua tahun follow up menunjukan tingginya insiden tekanan darah tinggi. Perilaku sedentaris mengubah respon myokine di otot rangka dan perubahan ini meningkatkan disfungsi endotel dalam sistem kardiovaskular dengan peningkatan adipokines proinflamasi. Akibatnya, kenaikan ini bisa menjadi awal dari proses patologi aterosklerosis dan semakin berkembang menjadi hipertensi.

4.      Gangguan mata

Perilaku sendentary remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi, menggunakan komputer dan bentuk hiburan berbasis layar lainnya dapat menyebabkan gangguan pada mata. Penggunaan media yang berlebihan dan secara terus menerus akan mengganggu fungsi visual, juga dapat menyebabkan kelelahan okular dan fisik. Gangguan kesehatan akibat kelelahan mata karena terus menerus menatap layar monitor. Gejalanya dapat berupa ketegangan / kelelahan mata, mata kering, mata merah, iritasi mata, rasa terbakar pada mata, penglihatan kabur, penglihatan ganda, lambat dalam mengubah fokus, perubahan persepsi warna, sekresi air mata yang berlebihan, sensitif cahaya / silau, nyeri kepala, dan rasa sakit pada leher, bahu dan punggung.

 

D.    Cara Mengatasi Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja

1.      Membatasi Screen Time

Rekomendasi waktu yang dihabiskan untuk melihat monitor/screen time yang dibatasi maksimal 2 jam/hari. Karena melihat layar seperti menonton televisi dapat menyebabkan obesitas pada remaja. Hal itu karena selain pengeluaran energy yang terbatas dan asupan energy yang lebih tinggi dari cemilan serta konsumsi buah dan sayuran yang lebih rendah.

2.      Dukungan Teman Sebaya

Teman sebaya cenderung lebih mudah mempengaruhi dalam melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Teman sebaya yang dimaksud adalah teman yang sering menghabiskan waktu bersama biasanya yang memiliki gender yang sama, dan mendukung satu sama lain. Remaja yang tidak emmiliki dukungan teman sebaya lebih berpeluang untuk melakukan perilaku sedentary.

3.       Menemukan hobi atau aktivitas positif yang disukai

Menemukan aktivitas positif pada remaja dapat dilakukan dengan cara bergabung dengan komunitas untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan kegiatan yang disenangi. Dalam hal ini remaja akan menghabiskan waktu sneggangnya dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai media pencapaian kebahagiaan hidupnya.

4.      Penyediaan Fasilitas

Tersedianya fasilitas membuat aktivitas fisik semakin emningkat, karena fasilitas merupakan salah satu yang mendukung seseorang untuk melakukan aktivitas fisik dan mencegah sedentary. Adanya fasilitas yang cukup memadai, akan memberi kemudahan bagi seseorang untuk melakukan aktivitas fisik.

5.      Pengawasan Orang Tua

Orang tua sebaiknya lebih mengarahkan dan melakukan manajemen terhadap kegiatan remaja agar waktu luangnya dihabiskan untuk hal-hal yang bermanfaat, positif, dan sehat serta membatasi pengggunaan/aktivitas yang berbasis layar.  


Daftar pustaka:

Faiq A R, Zulhamidah Y, & Widayanti E., Gambaran Sedentary Behaviour dan Indeks Massa Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI di Masa Pendidikan Tahun Pertama dan Kedua. Majalah Sainstekes. 5(2), p. 66-73.

Desmawati., Gambaran Gaya Hidup Kurang Gerak (Sedentary Lifestyle) dan Berat Badan Remaja Zaman Milenial di Tangerang, Banten. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat. 11(4), p. 296-301.

Sinulingga P A, Andayani L S, & Lubis Z., 2021. Hubungan Pengethauan Dengan Perilaku Sedenatry yang BErisiko Obesitas Pada Remaja Di Kota Medan. Jurnal Health Sains. 2(5).

Ludyanti L N., 2019. Perilaku Kurang Gerak (Sedentary Behaviour) Dengan Perkembangan Psikososial Anak Pra Sekolah. Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan. 7(2), p. 23-31.

Sholihah M, Soedirham O, & Triharini M., 2019. Niat Keluarga Terhadap Peningkatan Peran Mencegah Sedentary Lifestyle Remaja. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 10(4), p. 257-260.

Martha, E. (2020). Perilaku Sedentary Siswa SMP DI Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun 2018. Jurnal Ekologi Kesehatan, 19(1), 76-83.

Repi  A A., 2018. Aku, Remaja yang Positif. Jakarta : PT. Gramedia

Wati, W. (2021). Hubungan Penggunaan Media Elektronik Dengan Keluhan Di Mata Remaja Dengan Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19. JKM: Jurnal Keperawatan Merdeka, 1(1), 108-114.

Nugroho, D. U., Saraswati, L. D., & Udiyono, A. (2016). Gambaran Faktor Risiko Peningkatan Tekanan Darah Pada Remaja Usia 12-14 Tahun (Studi Pada Siswa Smp Islam Al Azhar 14 Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 4(1), 120-126.

Damayanti, Z., Margawati, A., & Noer, E. R. Gaya Hidup Sedentari Remaja Urban Berkaitan dengan Emotional Eating. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 4(1), 28-49.

Mandriyarini, R., Sulchan, M., & Nissa, C. (2017). Sedentary lifestyle sebagai risiko kejadian obesitas pada remaja SMA stunted di Kota Semarang. Journal of Nutrition College, 6(2), 149-155.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sedentary Behavior Remaja

A.     Pengertian Sedentary Behavior/Lifestyle Pada Remaja Menurut pendapat Aubert et al. (2017) definisi dari sedentary behavior merupaka...